Kamis, 27 Februari 2014

25

Hai, 25.
Hai.
Semangat

Kamis, 20 Februari 2014

Awan.

"Galih, tunggu...."
"Galih, kamu gak denger suaraku?"
"Galih jangan jalan dulu......"

sudah maksimal rasanya suarakku keluar dari tenggorokan, sudah sampai di ubun ubun aku teriak. tetap saja tak ada risaunya mahluk satu itu. berjalan dengan tenangnya menjahui posisiku berdiri tanpa menoleh sedikit pun. kembailah akupun mendengus kesal. menendang kecil kakiku dan mulai berjalan sambil menggerutu.

Sesedikit aku menoleh ke belakang, tetap saja rasa tidak tenangnya sesekali menjenguk.
aku terus berjalan, Galih seperti manusia dengan sejuta baterai di tubuhnya, sudah terasa sangat jauh kami berjalan. masih juga belum berhenti kakinya.
ingin teriak, tapi sudah kering suaraku. iya kalau dia dengar, jika dia acuhkan lagi seperti tadi apa guna?

Jarum jamku terus berputar, tak terasa sudah lebih dari 7200 detik aku berjalan mengikutinya, aku menyerah. kakiku sudah meronta memaksaku untuk berhenti. kepalaku sudah terlalu basah dengan kucuran air keringatku. bibirku pun sudah terlalu kering untuk terbuka.

"Galih aku gakuat! berenti dulu!!" 
tidak ada respon, ia masih saja berjalan.

"Galih!!!!"
Masih saja terdengar suara telapak kakinya itu berjalan.

"Yaudah aku berenti. terserah kamu kalo masih mau jalan"
dan ia berhenti.

Namun aku sudah tak lagi perduli. ku letakkan ransel ku itu yang sudah hampir membuat otot lenganku kehilangan massa, kuambil botol terakhir air minumku, langsung aku duduk tanpa basa basi. kunikmati teguk demi teguk air dari botol terakhirku, tak perduli kalau nanti harus berhadapan dengan fatamorgana karena dehidrasi aku dibuat oleh sinar matahari.
Tak sadar karena terlalu nikmat tenggelam dalam setiap tegukan air ku. Galih sudah duduk di depanku.

"Kalo dehidrasi nanti? kamu mau apa?"

" Minta minum kamu?" 

"Kalo aku gak kasih? "

" Gak mungkin."

"kalo iya?"

"aku ambil paksa. kamu tega aku dehidrasi?"

" kamu sendiri tega aku dehidrasi? "

"Ya enggaklah...."

"Kalo gitu kamu gabakal tega ambil paksa minumku"

sunyi. akupun tak tau harus merespon apa.

" Tapi kalo disuruh milih, mending kita berdua sama sama gak dehidrasi kan?"

" Ya......iya, siapa yang mau dehidrasi galih?"

" Awan. awan mau dehidrasi demi kaktus. awan bahkan mau dehidrasi buat kita." 

"Karena dia bakal nurunin ujan jadi dia dehidrasi? iya? kalo emang udah siklusnya? kamu mau apa?"

"Kamu tau apa?"

"Cuma yang aku bilang tadi? terus apa hubungannya?"

"Kamu jadi aneh."

"Kamu yang aneh. bawa bawa awan. disini sekarang cuma ada aku sama kamu. biar waktu jalan. jangan kamu putar balik hawanya. aku udah suka yang normal."

"Iya tapi kamu gak normal"

"Terus kamu masih mau berjalan sama aku? dijalan yang panjangnya aku gatau ini?"

"Apa aku keliatan punya pilihan lain?"

"Apa kamu harus punya?"

"kondisional. yaudah ayuk jalan lagi. lelet."

Tanpa sadar ia sudah berjalan kembali di depanku. beberapa langkah di depanku.aku kembali mendengus kesal karena ia lagi lagi ta mau menunggu. selagi aku memasukan botolku yang sudah kosong, kulihat botol galih berada di dalam tasku.

"Tadi katanya....."
Sambil kulihat kembali, apa benar itu kepunyaannya atau hanya efek fatamorgana yang mulai mendatangiku. sambil kuputar putar botolnya, kutemukan satu tanda yang memastikan bahwa itu memang kepunyaanya.
iya tanda kecil yang meyakinkan, di sudut kanan atas tutup botolnya.
gambar awan kecil sedang tersenyum. tersenyum manis kepadaku, membuatku kembali berjalan dengan semangat yang berbeda.

"Baru ingat aku, kenapa aku pilih kamu untuk berjalan di depanku. dari awal. aku gak salah. awan :) "