![]() |
| Source : www.pinterest.com |
Kepingan
Kepingan mana lagi yang hilang?
Kehilangan kepingan itu, harus dinilai sebagai sebuah peristiwa yang merugikan atau justru menguntungkan?
atau justru memang hilangnya kepingan itu untuk suatu hal yang orang orang katakan masa depan yang lebih baik?
Kepingan itu tetap tinggal atau jatuh, seperti layaknya sebuah kepergian dan kedatangan?
Kenapa? Kenapa kepergian disebut lebih awal? bukankah rangkaian peristiwanya diawali dengan kedatangan baru dengan kepergian?
Nggak tau.
Semaunya jari jari saya mengetik kata kata ini lagi gak bisa di prediksi. ada apa?
Nggak tau juga.
Setiap kedatangan dan kepergian ada artinya katanya.
Katanya.
Semuanya ada alasannya katanya
katanya.
semua ini, semua rasa ragu ragu yang seakan akan menolak pernyataan itu,
apa ini?
apa itu hanya sekedar sebuah sifat keras kepala yang tak ingin terlalu lenje dalam mengartikan aspek aspek atau poin poin yang ada di hidup?
atau memang bukan?
Atau ini yang disebut sebuah kemarahan?
Bukan?
Atau mungkin ini adalah sesuatu yang disebut sebagai titik lemah?
Teman? Kawan? Sohib? Sobat?
Semuanya cuma kata. kata benda. kata yang rangkaiannya terdiri dari pilihan acak alfabet. Siapa yang tau kalo untuk mendeskripsikan sesuatu yang disebut diatas tadi, kita akan memakai kata diatas tadi?
Kebiasaan
Kecenderungan.
Budaya.
Bukan suatu keharusan.
Kalo saya mau memanggil seseorang yang saya bilang "Teman" itu dengan sebutan "Kay"
apa saya salah?
engga.
Kamu juga ga salah.
siapapun gak akan salah kalau preferensinya memang kata kata lain.
Kan kata kata, Teman, kawan, sohib, sobat, sahabat, pacar, atau apapun itu. hanyalah generalisasi, kan?
Sekarang berarti kalo udah sampe pada kesimpulan itu, tergantung subjektivitas masing masing pribadi gimana dia mengartikan sosok pribadi yang dia panggil Teman, atau sohib atau kawan atau pacar atau musuh atau panggilan panggilan lainnya.
Kan?
Dan sepertinya saya gak bisa menyalahkan ketika ada seseorang atau banyak orang yang punya arti yang berbeda dengan kata kata itu, kan?
Mungkin pengalaman saya dengan kedatangan dan kepergian yang ngebuat saya punya preferensi sendiri sama pribadi atau sosok yang akan saya panggil teman.
Perjalanan dari waktu ke waktu juga mungkin nanti akan ngubah preferensi yang saya punya sekarang ini.
Mungkin juga karena sesuatu yang saya sebut titik lemah tadi, udah mempengaruhi sebagian besar dari keputusan saya dalam perihal manggil-memanggil ini.
Mungkin kondisi dimana kedatangan itu tidak terlalu berarti, membuat saya menjadi lebih tenang dalam memilih dan memutuskan panggilan itu tadi. Sepertinya, sebuah kedatangan yang pasti akan diakhiri dengan kepergian itu lebih baik tidak memiliki intensitas awal yang terlau tinggi.
Mungkin memang lebih baik semua hal berada dibawah batas normal terlebih dahulu.
Karena pada satu waktu, ada sebuah kedatangan yang begitu melekat, yang saya kira akan bertema sama di kedua belah pihak, ternyata memiliki kepergian yang lebih awal dari yang sudah terjadwal dari tema.
Siapa yang gapernah mengalami atau menemui kepergian?
Gaada tentunya,
Tapi ketika kepergian itu sendiri membuat saya begitu lelah, sampai akhirnya saya gak tau apa saya siap dengan kedatangan kedatangan lainnya apa enggak.
apa saya mau menerima kedatangan kedatangan lainnya apa enggak?
Mungkin ini salah satu sisi lemah yang membuat saya teralu mengikuti arus, dampak dari ketakutan akan rangkaian kedatangan dan kepergian tadi.
Tapi sekarang saya muak.
saya kira cukup sudah satu kali datang kedatangan dengan kepergian yang lebih awal dari yang terjadwal tadi,
Ternyata orang orang ini berkata lain
berpendapat lain
sesuka hatinya.
ha ha ha ha ha
harus saya tertawa?
hak saya.
