Sabtu, 16 April 2016

Semesta - Ku

Semesta emang punya caranya sendiri dalam menjalankan perannya.
atas izin dan kuasa yang diatas.

dia seperti memegang kendali penuh akan setiap kejadian.
dalam memutar balikan isi hati seseorang,
dalam memberikan seruntutan persitiwa yang mengejutkan hati, mentrasmitkan dopamin dopamin ke otak, sehingga orang itu tidak bisa bernafas, saking senangnya.




atau 

dalam memberikan magnet yang menarik seseorang itu ke inti bumi dengan serentetan masalah yang membuatnya berfikir bahwa memang hidup itu hanya berisi masalah yang tidak akan ada habisnya.

Sepertinya, baru kemarin rasanya.
ada yang datang dan membawa bawa balon balon yang katanya 'dunianya' itu.
terlihat seperti mengelana dan mengembara,
mencari seseorang untuk diberikan.
terlihat seperti orang yang memang sedang mencari itu.

Aku? hanya bisa melihatnya dari punggung.
Aku gak menyangka, semesta mempertemukan aku denganmu dengan cara seperti ini.
saat kukira, untaian kata yang sempat terucap sebelum ini akan menemukan perhentiannya,
yang kukira hanya sebagai salah satu momen yang bersinggah sebentar di jalan hidupku
yang gak akan ada kelanjutannya.

Voila! disini kita

Heran? ya, itu salah satu alasan aku menulis (lagi) disini.


Hanya bisa memandang kedepan
diam
dan berfikir gila
ngawur..
meracau.

Senang? Ya, siapa yang tidak?
ngga ada.
Tapi tetaplah, aku akan kembali ke sifat sifat dasar manusia pada umumnya
aku akan merasa sangat inferior.
aku akan merasa bahwa ketidak-mungkinan itu mengalahkan, kata kata motivator yang meyakinakan 'semuanya itu mungkin!'
halah - omong kosong.

Terima saja, hidup memang brengsek dan menyebalkan.
boleh saja mencari penyokong, pendukung, penarik semuanya itu, yang kamu harapkan bisa menarikmu dari jurang masalah, dimana semua monster monster kelaparan itu mencari mangsa untuk dihabisi.
dimana mereka tergiur hidupmu yang biasa biasa saja itu, untuk sedikit dinodai oleh masalah.

lalu? ya kamu akan kebingungan mencari tali yang siap menarikmu keatas
kamu akan kebingungan mencari tangan yang mengadah, siap menarikmu,
sibuk mencari tangga.
sampe kamu lupa,

kalo yang bisa menolong dirimu pada saat itu, ya dirimu sendiri.

ya, melanturnya jadi kemana mana kan.
sampai lupa tadi, kamu sudah membawa percakapanku kemana?

Ohiya, ingat.
ternyata cara semesta!
aku sedang ngomongin itu!

ya, cara semesta (atas izin yang berkehendak) mempertemukan kita memang lucu sekali,
saat dulu aku melantunkan doa,
buntu rasanya,
mana jalannya?
bahkan posisimu di gedung pun terlalu tinggi, menempati ruangan sebelah pak direktur.
aku?
dibawah saja jadi pengunjung tetap.
Yang bahkan mungkin, kamu gak akan bisa bedakan dengan pengunjung pengunjung lainnya.

Tapi disinilah aku, yang gatau gimana caranya.
semuanya jadi berbalik.
lucu ya?


ya, engga berbalik juga sih.
ruanganmu tetap di sebelah pak direktur
aku?
ya tetap jadi pengunjung biasa.

Hanya semesta yang memberikan jalan buat aku bisa bertemu.
walau, sekali lagi
aku tau
hanya untuk 1 kali pertemuan.

Walaupun semua sel sel di tubuhku sempat ter-eksitasi dengan sangat maksimal,
aku sangat senang
tapi pada 1 titik kemarin
setelah segala prasangka ku.
segala pikiran pikiran hiperbola ku,

justru di 1 titik dimana aku paling bahagia buatmu,
1 titik dimana aku gabisa mendeskripsikan bagaimana senangnya aku membawa 'hal' itu.
di titik itu rasanya aku tau, bahwa memang aku harus ngelepas kamu
bukan melepas juga
kamu juga gapernah ada di genggaman aku

mungkin lebih tepat dengan,

menerima kondisi bahwa bahagiaku kemarin sudah cukup
ceritaku, yang bersubjek kamu, hanya sampai pada kebahagiaan itu saja.
bahwa Tuhan menyayangiku, dengan menutup cerita itu dengan titik kebahagiaan itu,
dan sebuah pesan ke-ikhlasan.

Yang membuatku bingung bagaimana menutup cerita ini,

ya, selesai.