Selasa, 09 Agustus 2016

A Post

i keep telling myself that i need to post something.

a post. you know, it could be a post with some photos on it, and a description about my recent experiences? with cimsa, lab research, non pathological block, or the fact that my first younger sister is going abroad to netheralands to continue her college there. she is taking life sciences major, plus the slap to my pretty face that i haven't done anything good. she got a schoolarship for it, and me? well, i am right here, right now, typing some words into sentences, but doesnt even know what is she going to write.

Grey's anatomy.

source : http://www.hercampus.com/school/ufl/fitness-finesse-official-grey-s-anatomy-workout-game 


does that name rings a bell to you? well, nope that is not one of the author of the anatomy book (like what i used to think) it's grays anatomy not grey.

And well yes, this is a tv series of a...............i dont know what words suits best. you can say, it tells you a daily life of a doctors, which is absolutely stunning but not really fascinating at the same time.

you can be a hard-core attending, a world class-surgeon but still can't manage your own grandson to listen to you.
and, having one of the most talented surgeon in any subspecialities on your family line, name it your mother, father, or even a grandfather is not really helping as it is, it could be fascinating sometimes, but the burden overcome the fun part most of the time. and that doesnt feel good. (considering you are not asking to be born in a family that runs a surgeon blood?)

i've been addicted to this tv series for weeks, even months. it gives me thrilled but also sucks at the same time.
Because seeing that i have the chance, i could be one of the hard-core attending, or a world class surgeon that rocks every single damn operations, can diagnose almost everything with or without full-armed medical tools (because sometimes experience might show her own way to works), and how being the hard-core doctor is really quite a scene. when you get to diagnose people (with a lot of works, practice, mistakes before it of course) then help them, best scenario they would live, a happy life, thanked you for things that you've done.
That is the scence that is quite thrilled. fascinating, that kind of feeling is the one that makes me keep watching the series. keep wanting to watch more episodes, and more, and more.

But at the same time, the part that you really have this one life to be sucked on. that means exactly as the sentence is. You only have this one life, and you can really really have the sucked one. very sucked one. you can live your life happilly but then one day you have hiccups, unstoppable one, the next thing you know you get pericarditis due to the tubes that helps you through with the hiccups, having some complications in OR then die on the table.

Well maybe because it is a tv series, they could be overreacting, they make it look more dramatics, so that it will attract more people to watch, making people who watch it (including me) to be so involved into the story.

But that dramatic overreacting planned story felt so real. that makes me really believes that everybody is screwed up person. You can go with "oh no, my life has been great, i got straight A's, i never got myself drunk, i pray, and do other good things that makes my life so great that it doesnt suit your -everybody is a screwed up person- sentence" but then just wait. Life has a remarkable unbelievable quite fascinating cooperative relationships with problems, strating from the very small one until the biggest one, the one that you tought you can't handle, or the one that leaves a scar, problems, trouble, whatever it is. will get in there, into your life, in some fascinting way and TIME.

and that feeling, of having a perception that everything is sucked up, everyone is screwed. is not getting better even after i get to watch the -quite fascinating- or even -termendous fascinating- scene on the series,  is not good. i know.

But, i have been addicted to it, so what?

everybody is screwed already. they finish one problem, then the other one is not getting patient, waiting on the waiting list, figuring out how to make an entrance, a good one.

So what if everybody is already fucked up? then what? you live for living what? what is the purpose?

That has been my question in months.
not that i am being ungrateful of what i have, doesnt have to wait to turn it into what i had in order to do so.

But then what? you live this life for what.........? what exactly are you looking for? you fighting for?

is there anyone out there that can give me the damn answer. (well im on progress of asking it to the one i should ask it for myself. but complitely realized that i havent done it right)

*sigh*

okay, so this is me. fullfiling my urge to write, eventough i dont know what this is all about.


Sabtu, 16 April 2016

Semesta - Ku

Semesta emang punya caranya sendiri dalam menjalankan perannya.
atas izin dan kuasa yang diatas.

dia seperti memegang kendali penuh akan setiap kejadian.
dalam memutar balikan isi hati seseorang,
dalam memberikan seruntutan persitiwa yang mengejutkan hati, mentrasmitkan dopamin dopamin ke otak, sehingga orang itu tidak bisa bernafas, saking senangnya.




atau 

dalam memberikan magnet yang menarik seseorang itu ke inti bumi dengan serentetan masalah yang membuatnya berfikir bahwa memang hidup itu hanya berisi masalah yang tidak akan ada habisnya.

Sepertinya, baru kemarin rasanya.
ada yang datang dan membawa bawa balon balon yang katanya 'dunianya' itu.
terlihat seperti mengelana dan mengembara,
mencari seseorang untuk diberikan.
terlihat seperti orang yang memang sedang mencari itu.

Aku? hanya bisa melihatnya dari punggung.
Aku gak menyangka, semesta mempertemukan aku denganmu dengan cara seperti ini.
saat kukira, untaian kata yang sempat terucap sebelum ini akan menemukan perhentiannya,
yang kukira hanya sebagai salah satu momen yang bersinggah sebentar di jalan hidupku
yang gak akan ada kelanjutannya.

Voila! disini kita

Heran? ya, itu salah satu alasan aku menulis (lagi) disini.


Hanya bisa memandang kedepan
diam
dan berfikir gila
ngawur..
meracau.

Senang? Ya, siapa yang tidak?
ngga ada.
Tapi tetaplah, aku akan kembali ke sifat sifat dasar manusia pada umumnya
aku akan merasa sangat inferior.
aku akan merasa bahwa ketidak-mungkinan itu mengalahkan, kata kata motivator yang meyakinakan 'semuanya itu mungkin!'
halah - omong kosong.

Terima saja, hidup memang brengsek dan menyebalkan.
boleh saja mencari penyokong, pendukung, penarik semuanya itu, yang kamu harapkan bisa menarikmu dari jurang masalah, dimana semua monster monster kelaparan itu mencari mangsa untuk dihabisi.
dimana mereka tergiur hidupmu yang biasa biasa saja itu, untuk sedikit dinodai oleh masalah.

lalu? ya kamu akan kebingungan mencari tali yang siap menarikmu keatas
kamu akan kebingungan mencari tangan yang mengadah, siap menarikmu,
sibuk mencari tangga.
sampe kamu lupa,

kalo yang bisa menolong dirimu pada saat itu, ya dirimu sendiri.

ya, melanturnya jadi kemana mana kan.
sampai lupa tadi, kamu sudah membawa percakapanku kemana?

Ohiya, ingat.
ternyata cara semesta!
aku sedang ngomongin itu!

ya, cara semesta (atas izin yang berkehendak) mempertemukan kita memang lucu sekali,
saat dulu aku melantunkan doa,
buntu rasanya,
mana jalannya?
bahkan posisimu di gedung pun terlalu tinggi, menempati ruangan sebelah pak direktur.
aku?
dibawah saja jadi pengunjung tetap.
Yang bahkan mungkin, kamu gak akan bisa bedakan dengan pengunjung pengunjung lainnya.

Tapi disinilah aku, yang gatau gimana caranya.
semuanya jadi berbalik.
lucu ya?


ya, engga berbalik juga sih.
ruanganmu tetap di sebelah pak direktur
aku?
ya tetap jadi pengunjung biasa.

Hanya semesta yang memberikan jalan buat aku bisa bertemu.
walau, sekali lagi
aku tau
hanya untuk 1 kali pertemuan.

Walaupun semua sel sel di tubuhku sempat ter-eksitasi dengan sangat maksimal,
aku sangat senang
tapi pada 1 titik kemarin
setelah segala prasangka ku.
segala pikiran pikiran hiperbola ku,

justru di 1 titik dimana aku paling bahagia buatmu,
1 titik dimana aku gabisa mendeskripsikan bagaimana senangnya aku membawa 'hal' itu.
di titik itu rasanya aku tau, bahwa memang aku harus ngelepas kamu
bukan melepas juga
kamu juga gapernah ada di genggaman aku

mungkin lebih tepat dengan,

menerima kondisi bahwa bahagiaku kemarin sudah cukup
ceritaku, yang bersubjek kamu, hanya sampai pada kebahagiaan itu saja.
bahwa Tuhan menyayangiku, dengan menutup cerita itu dengan titik kebahagiaan itu,
dan sebuah pesan ke-ikhlasan.

Yang membuatku bingung bagaimana menutup cerita ini,

ya, selesai.





Rabu, 13 Januari 2016

Do i even get the chance, to put your name between my long-wish-prayers?

faridanazg.files.wordpress.com

Apakah saya bahkan mendapat kesempatan, untuk melantuknan abjad abjad yang merangkai namamu, dalan lantunan doa yang begitu panjang?

Ah, memang siapa saya ini. bermimpi dapat bertemu kembali dan dipersatukan dari sebuah pertemuan yang tak sampai sehari?

Ingat nama sayapun, belum tentu. terlintas abjad pertamapun sudah bersyukur. 

Sedangkan kamu? Nama yang begitu di-elu-kan dimana mana, terdengar gema nya dari ujung lorong hingga pelosok pelosok sudut kamar rumah.

Satu satunya pelarian yang dapat saya lakukan hanyalah mimpi. Disana tidak ada yang melarang fantasi saya berkeliaran dan berkelana mencarimu, kan? 

Kali ini mungkin, baru saya akan belajar, melantunkan dan mengcurahkan perasaan dalam diam. Pilihan bahasa bukanlah lagi abjad abjad yang merangkai kata, lalu merangkai kalimat yang dapat kau ubah ubah intonasinya,

Bait Puisinya bukan lagi terdiri dari huruf huruf alphabet dan semua tanda bacanya, melainakn terdiri dalam sebuah bisikan doa, senyuman, dan mata yang berbinar tiap kali ingat akan senyuman tulus yang keluar dari bibirnya itu. 

Terasa begitu sempurna, sampai megingatnya saja membuat hari ini cukup bertema.

Ya, semuanya sekarang saya lakukan dalam diam.

Tuhan, saya tau, bahwa perasaan membuncah tak terkendali ini akan membuat saya bertingkah sangat konyol, bahkan rangkaian kata saya diatas mungkin sudah terbilang konyol bagi beberapa orang, tapi izinkan saya bisikkan lagi dan saya titipkan kepada angin, beberapa kalimat doa dan harapan saya. 

Bila memang baik, dekatkanlah
Bila tidak baik, kuatkanlah saya untuk menerima.